Makan di restoran bisa bikin polusi udara meningkat, kok bisa?

Naik sepeda ke sekolah, ke kantor, belanja, ngemall bukan hal baru lagi buat orang Belanda. Sepeda memang sudah menjadi moda transportasi populer bagi warga sana. Tapi ini udah bukan hal baru lagi dari Belanda. Apa sich yang baru sebenernya?

Pernahkan kalian menyadari kalau dengan makan di restoran itu, kalian berkontribusi secara tidak langsung sama peningkatan gas rumah kaca (GRK) dan polusi udara? Kok bisa? Jawabannya bisa teman … Polusi udara dan peningkatan emisi GRK ini dihasilkan sama truk-truk pengangkut makanan yang tiap hari menyuplai bahan makanan di restoran-restoran Kota Amsterdam. Kendaraan –kendaraan yang bertugas mendistribusikan bahan makanan ini sudah dianggap mengganggu juga lho. Kenapa? Yang pertama karena kendaraan besar ini bikin macet jalanan kota yang punya lebih banyak sepeda daripada total penduduknya ini. Dari awal, amsterdam memang dirancang dengan jalan yang tidak terlalu lebar, yang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Jadi, sekarang ketika mobil dan kendaraan besar lain udah ada, jalanan kota ini jadi stuck karena kehadiran mereka. Yang kedua dan gag kalah penting adalah polusi udara Kota Amsterdam yang sudah berupaya dikurangi dengan bersepeda jadi kurang optimal. Sayang kan kalo masyarakatnya udah capek-capek genjot sepeda tapi mobil tetep wara-wiri.

FOODLOGICA-2

Gambar 1. Sepeda elektrik dengan box/ Kotak pengangkut di bagian belakang

Sumber: http://popupcity.net/solar-powered-trikes-delivering-food-in-amsterdam/

Untuk itu muncullah inovasi terbaru dari orang kreatif Belanda untuk bikin FOODLOGICA. FOODLOGICA ini mengedepankan konsep distribusi barang terutama bahan makanan lokal ke Amsterdam dengan mengintegrasikan sepeda elektrik dan kapal lewat kanal-kanal Amsterdam yang banyak itu. Penggagasnya Francesca Miazzo berpendapat bahwa sistem distribusi bahan makanan memiliki kontribusi besar dalam pembentukan kota yang resilient. Sungguh sudah sangat maju pemikirannya ya. Miazzo merombak sepeda dengan box atau kotak dibelakangnya untuk mengangkut bahan-bahan makanan ke restoran-restoran di kota yang merupakan tujuan wisata populer ini.

FOODLOGICA-1

Gambar 2. Gudang sepeda FOODLOGICA yang dilengkapi dengan solar panel

Sumber: http://popupcity.net/solar-powered-trikes-delivering-food-in-amsterdam/

Ide ini mungkin memang tidak sederhana dan butuh waktu yang tidak singkat juga, tapi tujuannya besar buat udara, lingkungan, bumi dan pemanasan global. Tapi konsep ini masih butuh dukungan besar buat dilanjutin karena belum banyak orang yang tau konsep ini dan masih dilakukan di Amsterdam aja. Tentunya bakal sangat luar biasa kalau kota-kota lain di dunia bisa ikut mengadaptasi konsep distribusi ramah lingkungan yang ditawarkan orang-orang Belanda ini. Ide yang kreatif dan sangat bermanfaat kan, kalo mau liat videonya masuk aja ke link ini http://foodlogica.com/ atau disini http://popupcity.net/solar-powered-trikes-delivering-food-in-amsterdam/.

Sumber inspirasi:

http://www.theguardian.com/cities/2014/sep/29/amsterdam-e-trikes-revolutionise-local-food-system

http://popupcity.net/solar-powered-trikes-delivering-food-in-amsterdam/

http://www.psfk.com/2014/10/foodlogica-amsterdam-food-delivery-service.html

http://farmingthecity.net/?p=5692

http://www.fotcp.com/fot/bicycle-food-transport-service-uses-e-tricycles/

http://foodlogica.com/

Bersepeda dengan Velib

Kota Paris di Perancis mulai melirik penggunaan sepeda sebagai solusi permasalahan lalu lintas pada tahun 2007. Kota ini memulainya dengan melakukan kampanye penggunaan sepeda berjudul ‘vélo libre’ yang berarti bersepeda gratis. Pemerintah Paris menyediakan ribuan sepeda untuk disewakan kepada masyarakat. Sepeda ini tersedia di 750 titik berjarak 300 meter. Setiap penduduk berusia lebih dari 14 tahun dapat menyewa sepeda ini selama 24 jam, penyewa haruslah membayar deposit sebesar 150 euro sebagai bentuk jaminan.

Program ini cukup berhasil di Paris terlihat dari banyaknya peminat serta pengguna fasilitas ini. Tercatat pada juli 2007 terdapat empat juta pengguna serta tujuh juta kilometer perjalanan di sekitar Kota Paris. Setiap hari sebanyak 50 hingga 70.000 sepeda disewakan. Dengan keberhasilan ini pemerintah Paris merencanakan penambahan titik persewaan menjadi 1451 titik di Kota Paris. Penyewaan sepeda ini juga diperuntukkan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Paris.

Pada awalnya velib merupakan sebuah upaya untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai salah satu pilihan transportasi. Namun sekarang, velib telah tersebar hampir di seluruh sudut Kota Paris. Sepeda ini memiliki sistem penggunaan yang unik dimana masyarakat dapat menggunakan sepeda untuk mencapai tempat tujuan. Sepeda ini disewakan untuk seluruh masyarakat yang memiliki kartu transportasi navigo atau imaginer dan juga kartu bank. Masyarakat memiliki waktu penggunaan gratis selama 30 menit, penggunaan lebih dari 30 menit diwajibkan untuk membayar. Setelah penggunaan selesai velib harus dikembalikan pada titik-titik yang telah disediakan. Apabila velib tidak dikembalikan maka pengguna akan mendapatkan denda sebesar harga sepeda yang digunakan.

Penggunaan velib sekarang ini telah menjadi salah satu pilihan masyarakat. Namun sayangnya velib masih memiliki beberapa kelemahan yang sebaiknya diperbaiki, diantaranya adalah kurangnya perawatan pada sepeda yang disewakan. Kondisi beberapa sepeda velib telah mengalami kerusakan sehingga kurang nyaman apabila digunakan. Umumnya kerusakan terjadi pada kursi tempat duduk dan setir kemudi.

Kurangnya pengetahuan letak-letak titik pengembalian sepeda menjadi kendala tersendiri. Letaknya yang tersebar di titik-titik tertentu membuat masayrakat yang tidak sering menggunakan velib kesulitan dalam menentukan lama tempuh serta lokasi yang akan dituju. Lama tempuh amat mempengaruhi biaya perjalanan yang akan dikeluarkan oleh pengguna untuk itu hal ini merupakan point krusial yang harus diperhitungkan. Signase berupa peta akan sangat amat membantu, namun sayangnya belum terdapat signase peta untuk velib.

Jalur sepeda di Paris juga tidak merata di seluruh penjuru kota, hanya terdapat pada jalan-jalan tertentu saja. Akibatknya banyak pengguna sepeda harus berbagi tempat dengan para pejalan kaki. Kurangnya kehati-hatian ketika mengendarai sepeda dapat beresiko bagi penggunanya. Penggunaan velib juga tidak aksesibel bagi wisatawan yang datang. Layanan ini hanya bisa digunakan ketika memiliki kartu bank setempat, sedangkan kebanyakan wisatawan tentunya tidak memiliki hal tersebut. Wisatawan juga tidak memiliki kartu transportasi navigo ataupun imaginer sehingga cukup menyulitkan. Velib sebenarnya dapat dikebangkan menjadi salah satu wisata yang menarik di Paris. Bersepeda mengelilingi kota akan memberikan kenikmatan tersendiri. Namun belum ada pengembangan menuju ke arah wisata.

Image

Image

Image

Image

 

Sumber:

http://www.eltis.org

TA Ratna Kusumaningrum, URP UNDIP 2012

http://en.wikipedia.org/wiki/V%C3%A9lib%27

Bike Track, Sustainable Transportation Concept

Image

Mobility or movement is one of the biggest challenges that faces by many cities in the world. A city must able to provide efficient public services so that the society could comfortably enjoy the city by working, shopping, or travelling (Rubini, 2010). In line with the rapid movement development of the urban people, the business of providing the new transportation innovation to support the mobility grows fast. Transportation mode provider now becomes one of the most interesting and beneficial business. Efficiency and affectivity is the main concern of the modern people especially related with time and money. Indeed, transportation gives big contributions on the city development especially in economic, but in environmental aspect transportation more gives negatives impact. Environmental degradation and global warning are the main issues that caused by air pollution.

Sustainable transportation could be one of the most suitable solutions on the effort process to tackle environmental degradation in general and reducing the use of private car especially. Sustainable transportation suggested using public transport as the main choices for people to support their activities. Public transport development could be integrated with the use of non-motorize transportation such as bicycle. Bicycle as eco friendly transportation could use as a feeder from the origin location like house to the closest public transport shelters.

Here is some example of bicycle track around the world:

Semarang City, Indonesia

Image

Surakarta City, Indonesia

Image

Image

Paris, France

Image

Image

Image

Amsterdam, Holland

Image

Image

geneva, switzerland

Image

Image

SUWON ECOMOBILITY VILLAGE: Let’s start to change!

Image

Suwon ecomobolity village are great innovation to introduce ecomobillity towards people. The street is walk able and comfortable with many restaurant and cafe around. Although it seems to be lack of greeneries, the weather is quite hot in the summer and greeneries will help this condition.  By new walk able street people in Haenggung dong village are encourage to leave their cars behind and start to ecomobile and enjoying the live and feel of their own village.

Suwon Mayor is working hard in this project, much demonstration happened during the construction stage. People objection are so high, some restaurant and cafe owner are protested and old people feel uncomfortable with noise and dust from the construction. A grandfather died because asthma while the construction held, in fact the families blamed construction dust as the main problem. Demonstration happened saying that “ecomobility had killed someone” it must be stopped!

Now in Haenggung dong many people started to believe and feel comfortable with the less cars condition. But the mayor has to step back a bit to fulfill the people ultimatum to let the car move in again a week after the opening day.  Although some challenge still remains unsolved the mayor has doing the best he can do to give an example and impulse to the ecomobility development.  The commitment towards ecomobilty encourages Suwon City to give bigger incentives to the people so that the ecomobility message could be heard. Did it already hear? No not yet, a bigger effort is still needed to reach sustainability. And for almost 30 years ecomobility being develop Indonesia, Philippines, and some others developing countries are still wondering when? How? And who? Would do the first step towards ecomobility. We have leave those question behind and started to planned and change it immediately if we would like to secure the future generation condition.

Image

Image

Image

Image

Mayor’s highlight: Participation is a must

Image

Participation is a familiar world to say today in urban planning study and program. Why is it popular? Because many experts believe that participation is the main key of success especially in Planning. Planning is aiming for public domain like Friedman said and done for a better condition in the future. So when those words combined it mean planning is for people, everything to do in planning basically has to be able to occupied people needs.

Participation word can also be found in ecomobility perspective which related to social behavior and willingness. Just like what Lagos Moreno mayors Mr Hugo Ruiz said in the Suwon Ecomobility Congress 2013 that ecomobility related with city planning have to be “people proposal” not “government proposal”. Here people contribution is essential because acceptance is the important word in implementation stage (Haag, 2013) and also to reach sustainability. Kyoto’s Mayor Mr Daisaku Kadokawa also stated that government and the people have to hand in hand to meet a better future condition by ecomobility. Why ecomobility need people? Because ecomobility is everyone rights, its human rights.

Image

Here in Suwon, the host of ecomobility festival, the mayor Mr Tae-Young Yeom encourages haenggung dong people to take big part in this ecomobility program. They working together to move private motorize vehicle aside and started to use non-motorized transportation, which is a great example of partnership. Suwon has try to improve their cities step by step, in fact before Suwon there is some others cities in the world working in the same goals, ecomobility for a better living. Kyoto in Japan, Freiburg in Germany, Kaohsiung in China, and some others cities in Asia, Europe and America are in stated of improvement and development, and hopefully many others cities in the world could follow their effort on encourage people to participate on the planning, so that they could understand and implement ecomobility.

Participation always need trust, people trust have to be gained by the government to be able to reach their goals and objectives. In fact if we see in developing countries corruption still remains to be the first challenge in gaining trust. Indonesia is one of bad cases of trust issues, because it was one of the most corrupted countries in Asia. People trust are low, they don’t believe to the government program and planning. How come? Because many planning in Indonesia are lack of implementation, besides sometimes it pushes aside the people aspiration. They have failed to reach the people heart, failed to gain people trust and rebuilt governance system and condition are the answer of increasing people trust.