City of Light, Kota Wisata Paling Populer di Dunia (Paris, Perancis)

Perancis merupakan negara yang sangat populer dengan kekayaan tradisi dan pariwisatanya. Negara ini merupakan salah satu negara maju dengan jumlah penduduk sebesar 61 juta jiwa. Perancis sering disebut juga dengan l’hexagon karena bentuknya yang heksagonal. Sekarang ini bentuk negara Perancis adalah republik yang dipimpin oleh seorang presiden, walaupun dalam sejarahnya Perancis merupakan negara monarki yang kuat. Perancis beribukotakan sebuah kota yang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata paling diinginkan di dunia. Tidak kurang dari 30 juta orang berkunjung ke kota ini setiap tahunnya.

Paris yang dikenal dengan julukan city of light adalah kota dengan jumlah penduduk lebih dari dua juta jiwa. Kota ini berkembang dari pinggiran sungai seine. Wilayah administrasi Kota Paris dibagi atas dua puluh bagian yang dibagi melingkar seperti ular, dengan wilayah bagian kota satu berada tepat di pusat kota. Paris sendiri apabila dilihat dari atas maka akan terbagi menjadi dua bagian besar yang disebut dengan à gauche yaitu bagian kiri dan à droit yang berarti kanan yang terbelah oleh aliran Sungai Seine. Keberadaan sungai ini amat dipertahankan oleh pemerintah setempat sebagai salah satu Landmark kota selain tour eiffel, museum Lovre, Arc de Triomphe, dan masih banyak lainnya.

DSCN0652

DSCN0943

DSCN2231

Paris memiliki sejarah yang cukup panjang, berbagai peristiwa pernah merubah kota ini. Paris pada masa penguasaan kerajaan merupakan pusat aktivitas pemerintahan. Pada awal perkembangannya kota ini berkembang ke arah kanan Sungai Seine, yang kemudian dikembangkan di kedua sisi sungai pada tahun 1190 dengan Louvre sebagai benteng barat. Kawasan kanan diperuntukkan bagi pusat perdagangan dan jasa yang berpusat di Les Halles, sedangkan sisi kiri merupakan kawasan yang diperuntukkan sebagai kawasan pendidikan dengan universitas pertama yaitu Sorbonne yang sekarang telah menjadi pilihan banyak pelajar untuk melanjutkan studinya.

Revolusi industri yang melanda sebagian besar kota-kota di Eropa juga membawa perubahan besar pada Kota Paris. Keadaan ini membawa urbanisasi besar-besaran menuju ke kota ini, dimana peristiwa ini membuat Paris mengalami perluasan wilayah untuk menampung lonjakan penduduk. Perkembangan yang semakin pesat ini membuat Paris harus merombak berbagai infrastruktur demi pemenuhan kebutuhan penduduknya, antara lain pelebaran jalan serta pembangunan berbagai fasilitas publik. Pada tahun 1900 jaringan transportasi kereta pertama diresmikan dengan nama Métro yang terus berkembang hingga sekarang.

Kini Paris telah berkembang menjadi kota metropolitan dengan luas 86,9 km2. Kota ini memiliki jumlah bangunan bersejarah yang amat terjaga hingga sekarang. Bangunan-bangunan bersejarah abad pertengahan mudah ditemukan di Paris. Salah satu faktor penting dalam perawatan gedung-gedung bersejarah ini adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Pengguna bangunan dapat merubah bagian dalam bangunan menjadi interior modern, namun tidak boleh merubah bentuk bangunan asalnya. Kota ini merupakan representasi kota dengan sejarah dan modernitas yang berdampingan. Lebih lanjut kota ini merupakan museum besar yang menceritakan sejarah melalui arsitekturnya. Oleh karena itu, Kota Paris sering disebut dengan kota pusat seni dan intelektual.

Kota Paris terbagi atas 20 bagian kawasan yang hampir mirip dengan sistem kecamatan dan kelurahan di Indonesia. Setiap kawasan ini memiliki satu pusat pemerintahan yang bertanggung jawab pada perkembangan kawasan tersebut. Dan secara lebih luas Paris merupakan zona pertama dari enam zona yang terdapat di Ile-de France. Kota yang populer dengan menara Eiffel ini dilengkapi dengan berbagai infrastruktur dan fasiitas yang membuat nyaman masyarakat serta wisatawan yang datang. Salah satunya adalah keberadaan jaringan transportasi yang matang dan menjangkau seluruh kawasan di Paris. Jaringan transportasi ini merupakan salah satu yang paling tua di dunia bersama dengan Kota San Fransisco di Amerika Serikat. Dengan keberadaannya baik masyarakat Paris maupun wisatawan tidak akan kesulitan untuk menuju tempat tujuan.

Advertisements

Sneak Peek at Laweyan History as “Kampung Batik”

Laweyan is one of the most popular kampong in Solo, many batik industries can be found here. Batik industries in Laweyan have been established even before Mataram, one of the famous islamic kingdom in java, moved to Solo from Kartasura. Based on KRT. Mlayadipuro, the history of laweyan was started in 1500’s when Laweyan village was given to Ki Ageng Henis by the king of Pajang Kingdom. Pajang Kingdom was the former kingdom of Mataram. Ki Ageng Henis is an imam which is not only teaching Islamic wisdom but also batik as an art and tradition. In that era, laweyan become the trading center of the kingdom that specializes in threads (“lawe”) for weaving process. Therefore, people started to call it “Laweyan”.

The existence of Kabanaran River has been helped the development of thread industry and trading activities in Laweyan. In Kabanaran Port the  goods distribution actively takes place. Although it rapidly replaced by land transportation such as train. In the 20th century, Laweyan inhabitants are famous as a rich businessman. They even richer than the nobleman in the palace.

In the past, batik business in Laweyan was managed by women, from the batik production process to financial management and marketing. They called them self as Mbok Mase where Mbok means mother, while their husband called as Mas Nganten (Mas: older brother). In the development of batik businesses, women particularly, contribute 75% in the management and production processes while the husband only 25%. Here, their capability in managing businesses have brought women to higher social level. Then these women will trained their daughter. So that later, they could take over the family business, but at that time they were not aware with the strike of modern technology especially textile printing technology. This technology have dominated batik market in 1970’s until late 1990’s. Batik industries in Laweyan then started to rise again when it was formally introduced as Kampong Batik by the former mayor of Solo, Slamet Suryanto in 2000’s.

pesindon

illustration of batik making (this picture taken in Pesindon Pekalongan)

By: International Class Studio Team Urban and Regional Development Diponegoro University Class 2012

The development of batik industry in Laweyan in the 20th century supported by some factors including batik has a important meaning toward the palace and kingdom as a symbol of power and nobility rank. At that time batik has been transformed into a popular item in the Javanese society especially in Solo City. Batik industry in Laweyan become even bigger when the businessman get the permission to produce stamp batik with traditional motif. The discovery of stamp batik has been affected on the hand writing batik production and market that made by the palace. The use of creative motif has also been suppressed the existence of classic motif. The popularity of batik in Java not only beneficial to the batik maker in Laweyan but also the dutch colonial as the demand of cotton increase. As the market getting bigger not only Javanese businessman attracted to batik industry but also some foreign migrants such as Arabic, china, and European businessman. The detail number of Surakarta batik industries in 1930’s can be found below,

No Owner Total Number
1 Javanese (pribumi) 236
2 China 60
3 Arabic 88
4 European 3
Total 387

Sources: P. De Kat Angelino, 1930, page. 321 in Soedarmono, 2006, page. 49

From those detail above more than 85% of the industries are located in Laweyan and it owned 100% by Javanese people. Those company has different characteristic and specialization. There are five categorizes in batik industry including batik company, babaran company, wedelan company, mbironi company, and prembe or outworker distributor. Batik company is the biggest or the mother for other four companies, the existence of these four companies is to support the production and marketing activities of batik company. There is an unwritten loyal relationship between those supporting company with the main batik company.

Reference and further reading : Mas Mbok Pengusaha Batik Laweyan Solo Awal Abad 20 —-> you can buy it at Roemahkoe Hotel Laweyan Solo (Rp 100.000)^^